Rabu, 08 Mei 2013

CIPUTRA: Pendidikan Entrepreneurship Adalah Jalan Keluar

Kamis, 29 November 2012 - 09:19:48 WIB
artikel-bisnis CIPUTRA: Pendidikan Entrepreneurship Adalah Jalan Keluar
Diposting oleh : arnandadanu    - Dibaca: 685 kali

Saya lahir di tengah keluarga pedagang. Orang tua saya pasangan entrepreneur Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang memiliki rumah sekaligus toko kelontong di desa Bumbulan. Sejak kecil saya sudah membantu orang tua berniaga, sehingga saya terbiasa bermain dan bergerak di antara barang dagangan. Orang tua saya sukses menciptakan lingkungan yang entrepreneurial.
 
Secara perlahan namun pasti nilai-nilai entrepreneurial itu tertanam dalam hidup saya. Dari ayah bunda yang saya cintai inilah saya belajar tentang kerja keras, integritas, persistensi, dan determinasi dalam hidup. Ayah dan Ibu saya adalah pedagang kecil yang sangat menghargai pelanggan. Excellence dalam pelayanan tampak dari cara mereka memuaskan pelanggan. Dari orang yang melahirkan saya ini, saya belajar untuk sungguh menghargai waktu. Dari mereka berdua pula saya terinspirasi menurunkan dan menyebarluaskan jiwa entrepreneur sejati kepada masyarakat seluas mungkin.
 
Sepeninggal ayah, ibu otomatis menjadi orang tua tunggal. Kehidupan masa kecil saya ibarat diterpa badai bergelombang. Kerja keras sangat mewarnai kehidupan sehari-hari kami. Saya terbiasa memburu binatang hutan dengan tombak dan 17 ekor anjing sehingga dagingnya bisa dimakan dan dijual untuk mendukung kehidupan keluarga. Tidur malam hari di tengah kebun seorang diri demi menjaga lading merupakan salah satu tugas saya.
 
Pada usia menjelang remaja, tatkala kebanyakan anak-anak kota besar saat ini menikmati keceriaan menjadi konsumen barang-barang bermerek, saya oleh keadaan “dipaksa” menjadi “entrepreneur cilik”, untuk menyambung hidup. Saya harus mampu menjual hasil pertanian dan perburuan untuk mengasapkan dapur sehari-hari. Saya terbiasa membuat topi dari daun dan menjualnya ke masyarakat. Malu dan enggan saya tepikan. Inilah kiat mengisi masa remaja yang justru menyuburkan benih-benih entrepreneurship di dalam diri saya. Benih-benih itu subur dan berbuah karena munculnya ikhtiar survival.
 
Bersekolah juga merupakan pengalaman hidup yang menuntut kerja keras dan determinasi. Sekolah dasar (SD) tempat saya mengenyam pendidikan awal, sangat sederhana.itu pun harus saya rengkuh dengan menempuh jarak tujuh kilometer. Pada masa itu, tak ada angkot. Saya berangkat dengan berjalan telanjang kaki di pagi buta. Pulang sekolah, terik matahari, atau hujan lebat kerap menemani perjalanan saya. Perut kosong suka pula mengganggu, tetapi kemudian saya rasakan sebagai hal lumrah. Bunyi keruyuk perut, memang kerap membuat saya getir, tetapi sering saya anggap sebagai irama musik yang menggetarkan kalbu. √Član saya justru bangkit dari situasi seperti itu.
 
Dalam alam pikiran anak-anak, saya paham bahwa melalui pendidikan saya akan bebas dari kemiskinan dan kemelaratan yang menghimpit. Saya bersyukur akhirnya itu semua menjadi sebuah sekolah kehidupan yang sangat berharga walau saya membayarnya dengan penderitaan yang menindih. Sekolah kehidupan ini akhirnya membuat saya paham bagaimana mengelola kegagalan untuk mencapai keberhasilan.
 
Kesuksesan bukan saja dalam arti kekayaan, kekuasaan, dan popularitas, melainkan melewati berbagai badai kehidupan. Kehidupan saat itu membentuk saya menghargai kehidupan lebih daripada sekadar kesulitan yang dirasakan di dalamnya. Terima kasih kepada TUHAN yang membantu saya menjadikan pengalaman kehidupan ini menjadi sebuah educative experience yang berharga. Pengalaman masa silam itu pula yang pada gilirannya membuat saya mudah bersimpati pada orang susah. Bersimpati di sini dalam konteks mengajak orang-orang kesusahan bangkit dan kemudian muncul sebagai orang sukses.
 
Pengalaman Masa Remaja Membuat Saya Siap Jadi Entrepreneur, Ketika Saya Kuliah di ITB

Ketika masih menjadi mahasiswa, Ismael Sofian, Budi Brasali, dan saya mendirikan Biro Arsitek Daya Tjipta yang sekarang dikenal sebagai PT Perentijana Djaya. Namun saya kurang puas, bahkan kerap putus asa karena hanya menjadi perusahaan konsultan. Kami hanya mengerjakan pekerjaan yang diberi oleh pihak yang memerlukan jasa kami. Tipe menunggu pekerjaan seperti ini tidak sanggup membangun “wealth”. Inilah yang membuat saya memutuskan mengubah haluan agar dapat mewujudkan cita-cita menjadi arsitek yang berguna bagi orang lain.
 
Saya ingin dan harus menjadi technopreneur atau arsitek yang berjiwa entrepreneurial, inilah yang menggelora di dalam jiwa saya. Hasrat inilah yang membawa keputusan saya mendirikan PT Pembangunan Jaya. Bukan lagi pasif menunggu pekerjaan tetapi aktif menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Inilah hal mendasar yang saya rindukan dan usahakan dalam hidup saya. Keputusan menjadi pengembang tetap saya pegang sampai saat ini. Saya sampaikan bahwa saya memulai karier entrepreneur dengan menjadi pengembang, perusahaan-perusahaan saya menjadi besar melalui bisnis pengembang. Saya pun berhasil melalui masa krisis ekonomi sebagai seorang pengembang oleh karena itu saya akan tetap menjadi seorang pengembang di dalam maupun di luar negeri.
 
Jalur 3-L untuk Menjadi Entrepreneur
 
Pengalaman hidup tersebut membawa saya pada kesimpulan bahwa untuk membentuk seorang entrepreneur yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas terdapat 3-Lyang menentukan, yaitu lahir, lingkungan, dan latihan. Pertama, karena lahirnya. Seseorang yang datang dari keluarga entrepreneur memiliki keuntungan besar karena akan menginternalisasi nilai-nilai entrepreneurship sejak dini secara kaya. La mengalami atmosfer entrepreneurship dalam jangka waktu panjang. Tidak heran bila ia tidak merasa asing dengan dunia entrepreneur dank arena itu lebih mudah menjadi entrepreneur.
 
Fackor kedua, lingkungan. Mungkin seseorang tidak lahir dalam keluarga entrepreneur namun ia berada dalam lingkungan sosial atau pertemanan yang sangat kondusif terhadap entrepreneurship. Nilai-nilai dan kebiasaan para entrepreneur tentunya akan masuk dan terserap melalui pergaulan sehari-hari. Sebagai contoh, para professional yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang sangat entrepreneurial. Selama bertahun-tahun bekerja, jiwa dan kecakapan entrepreneurship akan tertanam karena lingkungan seperti itulah yang mereka jumpai setiap hari.
 
Faktor ketiga, latihan atau pendidikan. Ini adalah upaya sengaja yang terstruktur untuk membangun mind set atau cara pandang entrepreneur dan kecakapan untuk melakukan tindakan-tindakan yang entrepreneurial. Bayangkan seseorang yang dalam hidupnya melewati ke 3-L tersebut, ia akan siap untuk lahir jadi entrepreneur yang sukses. Sebaliknya, bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak memiliki 3-L itu, bagaimana mereka bisa menjadi seorang entrepreneur yang kampiun? Kalaupun bisa itu tampaknya sebuah kebetulan dan kita tidak bisa menggantungkan masa depan kita dengan berharap pada serangkaian kebetulan-kebetulan.
 
Menjadi seorang pencipta kerja yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas selepas perguruan tinggi bukan hal yang terlalu sulit untuk saya. Setidaknya terdapat dua alasan. Pertama, pola piker, kebiasaan, dan kecakapan seorang entrepreneurship sudah tertanam amat dalam semasa muda. Kedua, saya secara tidak sengaja terlatih melakukan penciptaan bisnis (business creation) karena saya berpengalaman memulai berbagai usaha bisnis walaupun kecil-kecilan. Penciptaan bisnis atau pengamilan keputusan tentang bisnis apa yang akan dilakukan adalah salah satu bagian tersulit dalam ber-entrepreneur. Dengan bekal 2-L yang pertama (lahir dan lingkungan) saya dapat menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri dan sekarang berkembang menjadi lapangan kerja untuk lebih dari 14,000 orang

'CIPUTRA: Pendidikan Entrepreneurship Adalah Jalan Keluar ':

Artikel Bisnis Lainnya
  • CIPUTRA: Kecakapan Entrepreneurship Bukan Hanya untuk Bisnis Contoh di Dubai setidaknya menunjukkan, seseorang dengan kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas atau kecakapan entrepreneurship tidak selalu memiliki pekerjaan sebagai pemilik bisnis. Lalu, apa yang membedakan? Yang menjadi beda utama adalah tujuan mereka. Seorang business ... Artikel Bisnis

  • Bedakan Terobosan dan Gebrakan Bisnis "Gebrakan" merupakan salah satu dari kata yang paling banyak digunakan dalam dunia bisnis saat ini. Banyak entreprenur mengklaim dirinya sebagai entrepreneur yang menggebrak. Sering kata "menggebrak" menyiratkan bahwa produk atau teknologi yang ... Artikel Bisnis

  • Epilog : Day by Day with a Successful Entrepreneur Di awal penulisan buku ini, kami berangkat dari konsep yang sederhana. Yakni, merekam pemikiran dan pengalaman Ciputra sebagai entrepreneur, memadankannya dengan pemikiran tentang entrepreneurship dari berbagai tokoh, pakar, dan referensi lainnya, kemudian menyusunnya kembali dalam alur ... Artikel Bisnis

  • Mengapa Harus Menyusun Business Plan? Mayoritas entrepreneur atau calon entrepreneur setidaknya pernah mencoba untuk menyusun sebuah business plan yang baik. Namun, apakah mereka pernah mempertanyakan alasan penyusunan sebuah business plan? Apakah Anda sendiri sebagai entrepreneur telah memahami alasan penulisan sebuah ... Artikel Bisnis

  • CIPUTRA: Strategi QUANTUM LEAP Gagasan utama bagi quantum leap seperti yang saya pilih untuk judul buku ini ialah sebuah ide besar ihwal strategi pendidikan entrepreneurship. Strategi itu sebagai sebuah formula strategis dan praktis mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Pendidikan ini patut dilaksanakan dalam ... Artikel Bisnis


Jual Beli Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar